Search

”Memang benar ya, kalau bakat musik itu keturunan?”

Banyak orang tua murid Ensiklomusika Music School menanyakan hal ini, dan menurutku, topik ini sangat menarik buat dipelajari. Bertahun-tahun aku sudah berkiblat di dunia pendidikan musik, dan sekarang, aku mau berbagi pengetahuan berdasarkan pengalamanku. Menurut kalian, apa benar kemampuan musik itu genetik? Yuk, cari tahu kebenarannya!



Bakat musik itu tidak bisa diukur dengan angka, tapi banyak peneliti di luar sana menemukan bahwa pengenalan musik dini dan konsisten bisa mendorong keterampilan bermusik. Kalian sudah tahu kan interaksi sosial pertama setiap anak itu berasal dari orang tua? Hal yang sama juga berlaku dengan musik.


Sara Cassidy, seorang peneliti dari Laboratorium Jackson di Amerika, pada awalnya menggunakan teknik biomolekuler modern untuk menjawab pertanyaan ini. Alih-alih beranalisa dengan genom - yang mengulas keunikan genetik, Cassidy dan timnya malah menemukan cara mengukur musik yang akurat lewat Absolute Pitch (AP). AP juga dikenal sebagai Perfect Pitch, dan ia adalah kemampuan menelaah dan meniru variasi not musik tanpa pengetahuan tentang not-not tersebut. Kemampuan AP ini langka dan kompleks, namun bisa digunakan untuk mengukur kemampuan bermusik. Melalui analisa dan pengalamanku, aku percaya bahwa lingkungan bertumbuhnya seorang anak mempengaruhi kemampuan bermusiknya.


Ada juga sebuah penelitian pada 600 musisi di beberapa konservatori musik, orkestra, dan pusat pelatihan musik di Amerika, yang memapar hal yang sama. Analisa tersebut mencatat kepemilikan AP di 40% dari responden yang telah bermusik dari umur empat tahun atau lebih muda. Angka ini sangat tinggi, dibandingkan dengan 3% kepemilikan AP pada musisi yang bermusik di usia yang lebih tua, seperti sembilan tahun ke atas. Artinya, pengenalan dini musik pada anak mendorong pengembangan AP dan “bakat natural musik” mereka. Tapi, ini tidak cukup untuk membangun keterampilan bermusik yang berkelanjutan.


Orang tua dalam hal ini berperan penting dalam memaparkan musik dalam interaksi sosial awal anaknya. Contohnya, kalau profesi kedua orang tua seorang anak berkiblat dalam musik, si anak tersebut bakal kenal musik bahkan sewaktu sang ibu hamil. Hal ini dibuktikan lewat analisa sederhana yang dilakukan pada siswa konservatori musik di berbagai negara, seperti RRC, Jepang, Korea, Polandia, dan Amerika, untuk membuktikan perolehan AP lewat lingkungan bertumbuhnya anak. Dari 36% siswa Asia yang ikut dalam penelitian ini, hampir 50% dari mereka telah memiliki AP dari kecil, dan hanya 18.1% dari siswa non-Asia punya AP. Hipotesis ini bertumpu pada perbedaan nada dan intonasi bahasa Asia Timur, yang juga bisa dihubungkan dengan pengembangan berbicara dan belajar bahasa lain juga. Siswa dari RRC adalah kelompok siswa pertama dengan AP terawal dibanding murid Asia Timur lainnya.



Selain itu, musisi AP juga menunjukkan asimetri di bagian lobus temporal otak mereka, yang berada di sebelah kiri. Area tersebut, yang dikenal sebagai planum temporale dalam bahasa Latin, juga terkait dengan pengolahan bahasa dan pendengaran. Pemaparan awal musik penting untuk perolehan AP, dan kemampuan berbahasa lain bagi anak. Namun, ketika asimetris ini ditemukan di kedua otak orang tua, probabilitas regenerasi ini juga akan meningkat. Hal ini mendorong kemungkinan kemampuan musik “genetik” pada anak.


Dalam pembentukan kurikulum, kelas, dan tim pengajar Ensiklomusika Music School, aku yakin bahwa ketika aspek terpenting itu harus dilandasi pola pikir yang sama. Aku terus mencoba untuk menerapkan bahwa musik adalah konsistensi. Murid yang tidak punya latar belakang musik yang cukup ternyata berubah jadi musisi yang ahli, dengan cukup latihan dan orang tua yang suportif.


Aku coba terus mendukung para murid yang ikutan kelas percobaan untuk sadar, bahwa belajar musik bukanlah proses instan. Seringkali, banyak orang tua murid yang berharap anak-anak mereka bisa langsung main musik lewat kelas percobaan tersebut. Padahal, kelas percobaan itu adalah tahap pengenalan antara murid dengan guru mereka di Ensiklomusika Music School. Aku akan terus menekankan bahwa kemampuan bermusik secara harmonis membutuhkan pendekatan dan latihan yang konsisten. Pengenalan dini pada musik dan bakat alami bisa membantu, tapi latihan yang konsisten dan lama menjunjung kemahiran dengan hebat.


Setiap kelas di Ensiklomusika Music School selalu dilengkapi dengan kelas percobaan, karena aku mau memastikan kenyamanan murid dengan alat musik tertentu. Alat musik mana yang cocok untukmu? Cari tahu gimana kamu bisa bertumbuh dengan Ensiklomusika Music School di sini. Kamu sudah tahu alat musik mana yang cocok untukmu? Hubungi kami di sini aja!



4 views0 comments